{"id":5201,"date":"2025-11-28T04:13:12","date_gmt":"2025-11-28T04:13:12","guid":{"rendered":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/?p=5201"},"modified":"2025-12-08T06:09:31","modified_gmt":"2025-12-08T06:09:31","slug":"guru-inovatif-kelas-inspiratif-sdq-majmaal-murottilin-gelar-workshop-pembelajaran-interaktif-bersama-dosen-pgmi-fitk-uin-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/?p=5201","title":{"rendered":"Guru Inovatif Kelas Inspiratif: SDQ Majma&#8217;al Murottilin Gelar Workshop Pembelajaran Interaktif Bersama Dosen PGMI FITK UIN Malang"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Malang, 27 November 2025;<\/strong>\u2014SDQ Majma\u2019al Murottilin, sebuah lembaga pendidikan kesetaraan yang dikenal dengan dedikasinya di wilayah Kepanjen, Kabupaten Malang, baru saja menggelar workshop menarik bertajuk \u201cGuru Inovatif, Kelas Inspiratif.\u201d Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak. Menghadirkan narasumber Ibu Nuril Nuzulia, M.Pd.I dari PGMI FITK UIN Malang, workshop ini menawarkan strategi mendesain pembelajaran yang menarik, interaktif, dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atmosfer workshop dipenuhi semangat sejak sesi pertama dimulai. Ibu Nuril membuka acara dengan menggugah kesadaran para guru tentang pentingnya memahami karakter belajar siswa. Ia mencatat bahwa pembelajaran inovatif tidak sekadar tentang alat peraga baru, tetapi juga tentang pemanfaatan waktu secara efektif. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan komunikatif, Ibu Nuril mengajak para guru untuk langsung mencoba aktivitas menarik, seperti merancang ice breaking dalam dua menit dan membuat media ajar instan dari kertas. Hal ini bertujuan untuk membentuk interaksi yang kuat antara guru dan siswa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain aspek teknis, Ibu Nuril juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai Qur\u2019ani dalam setiap proses pembelajaran. SDQ Majma\u2019al Murottilin, yang menjadikan pendidikan al-Qur\u2019an sebagai inti visi lembaganya, mendapatkan dorongan untuk memadukan pembelajaran akademik dengan pengajaran Qur\u2019ani. Ia menjelaskan bahwa ayat-ayat al-Qur\u2019an bisa menjadi inspirasi dan pengait materi pelajaran, sehingga siswa dapat menikmati proses belajar tanpa merasa terbebani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diskusi aktif berlangsung di antara para guru, menjawab tantangan yang sering dihadapi, seperti siswa yang kurang fokus dan keterbatasan sarana. Ibu Nuril memberikan solusi praktis yang dapat segera diterapkan. Para guru juga diundang untuk menyusun mini teaching plan, rencana pembelajaran ringkas yang efektif. Hasilnya mengejutkan banyak peserta; mereka dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif dan siap dilaksanakan meskipun dalam waktu singkat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepala sekolah menegaskan bahwa workshop ini mengukuhkan identitas SDQ Majma\u2019al Murottilin sebagai lembaga progresif yang tidak kalah dengan sekolah formal. Di akhir kegiatan, para guru merasa bangga dan percaya diri, siap menerapkan pembelajaran baru yang inspiratif. SDQ Majma\u2019al Murottilin membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh ukuran lembaga, melainkan oleh kebangkitan inovasi dan komitmen untuk memenuhi kebutuhan belajar anak-anak. Dengan dedikasi dan semangat untuk terus berinovasi, lembaga ini siap menerangi jalan menuju generasi Qur\u2019ani masa depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malang, 27 November 2025;\u2014SDQ Majma\u2019al Murottilin, sebuah lembaga pendidikan kesetaraan yang dikenal dengan dedikasinya di wilayah Kepanjen, Kabupaten Malang, baru saja menggelar workshop menarik bertajuk \u201cGuru Inovatif, Kelas Inspiratif.\u201d Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak. Menghadirkan narasumber Ibu Nuril Nuzulia, M.Pd.I dari PGMI FITK UIN Malang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5207,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-5201","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5201"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5201\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5202,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5201\/revisions\/5202"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5207"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}