{"id":6396,"date":"2026-08-22T06:47:49","date_gmt":"2026-08-22T06:47:49","guid":{"rendered":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/?p=6396"},"modified":"2026-08-24T07:07:46","modified_gmt":"2026-08-24T07:07:46","slug":"kurikulum-pgmi-di-era-ai-guru-tak-tergantikan-justru-harus-semakin-adaptif-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/?p=6396","title":{"rendered":"Kurikulum PGMI di Era AI: Guru Tak Tergantikan, Justru Harus Semakin Adaptif"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Malang, <strong>21 Agustus 2026 \u2013\u00a0<\/strong><\/strong> Perkembangan kecerdasan buatan (<em>Artificial Intelligence<\/em>\/AI) mulai mengubah wajah pendidikan, termasuk pendidikan guru madrasah ibtidaiyah. Hal tersebut mengemuka dalam Workshop dan Diskusi Pengembangan Kurikulum PGMI yang digelar Program Studi PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (21\/8\/2026), melalui Zoom. Dalam sambutannya, Dekan FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA, menekankan tiga kekuatan FITK yang perlu terus dikembangkan, yakni pendidik tersertifikasi, kemampuan mencipta dan mengembangkan teknologi, serta responsivitas terhadap aspek psikologis anak. Ia juga mendorong dosen dan mahasiswa menjadi arsitek pembelajaran melalui pengembangan RPS yang sesuai konsep 3 in 1 dan penguatan pembelajaran berpusat pada mahasiswa (<em>student-centered learning<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"940\" height=\"460\" src=\"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6403\" srcset=\"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image.png 940w, https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-18x9.png 18w, https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-300x147.png 300w, https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-766x375.png 766w\" sizes=\"(max-width: 940px) 100vw, 940px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof. Muhammad Walid menegaskan bahwa IPK bukan satu-satunya bekal mahasiswa memasuki dunia kerja. IPK hanya menjadi salah satu pengantar menuju proses wawancara, sementara kompetensi lain harus terus dikembangkan. Karena itu, perkembangan AI tidak seharusnya menjadi momok bagi mahasiswa, melainkan sarana untuk mengubah <em>mindset<\/em> dan meningkatkan kemampuan adaptasi. AI juga perlu diposisikan sebagai teman diskusi, bukan sekadar alat bantu pragmatis untuk menyelesaikan tugas. Menurutnya, pengembangan pembelajaran berbasis AI harus diiringi evaluasi yang paripurna, pemberian layanan terbaik kepada mahasiswa, serta supervisi dan monitoring terhadap kegiatan belajar mengajar.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"940\" height=\"448\" src=\"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-6404\" srcset=\"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-1.png 940w, https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-1-300x143.png 300w, https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-1-18x9.png 18w, https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/image-1-768x366.png 768w\" sizes=\"(max-width: 940px) 100vw, 940px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Ahmad Arifuddin, M.Pd., Kaprodi PGMI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dalam pemaparannya bertajuk <em>\u201cPeluang dan Tantangan Pengembangan Kurikulum PGMI di Era Kecerdasan Buatan\u201d<\/em>, menegaskan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru, tetapi memperkuat kompetensi pedagogik. Kurikulum PGMI perlu membekali calon guru dengan AI literacy, AI pedagogy, dan AI agency, sehingga mahasiswa tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerja, keterbatasan, serta mampu mengkritisi hasil yang dihasilkan teknologi tersebut. AI membuka peluang melalui personalisasi pembelajaran, efisiensi penyusunan bahan ajar, penguatan literasi digital, simulasi pembelajaran, hingga analitik belajar. Karena itu, kurikulum dapat mengakomodasi literasi AI dan etika digital, desain pembelajaran berbantuan AI, micro-teaching dengan simulasi AI, serta asesmen dan analitik berbasis data.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, integrasi AI juga menghadirkan tantangan berupa kesiapan sumber daya manusia, etika dan keaslian akademik, kesenjangan infrastruktur, serta potensi bergesernya nilai keislaman dan karakter. Ketergantungan terhadap AI, bias dan ketidakakuratan informasi, serta perlindungan data mahasiswa menjadi persoalan yang harus diantisipasi melalui pedoman etik yang jelas. Pengembangan kurikulum PGMI adaptif-AI selanjutnya dapat dilakukan secara bertahap melalui kajian kebutuhan, integrasi literasi AI dan etika digital dalam CPL, CPMK dan RPS, pelatihan dosen serta mahasiswa, uji coba, dan evaluasi berkala. Dengan demikian, AI diharapkan menjadi mitra dalam pembelajaran, sementara keputusan pedagogis, pembentukan karakter, kemampuan bernalar, dan nilai keislaman tetap menjadi tanggung jawab utama pendidik. [*]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malang, 21 Agustus 2026 \u2013\u00a0 Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence\/AI) mulai mengubah wajah pendidikan, termasuk pendidikan guru madrasah ibtidaiyah. Hal tersebut mengemuka dalam Workshop dan Diskusi Pengembangan Kurikulum PGMI yang digelar Program Studi PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (21\/8\/2026), melalui Zoom. Dalam sambutannya, Dekan FITK UIN Maulana Malik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6406,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,31,42],"tags":[],"class_list":["post-6396","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-kegiatan","category-literasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6396"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6396\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6407,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6396\/revisions\/6407"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6406"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pgmi.uin-malang.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}