MIU Login

Workshop Deep Learning dan Kurikulum Cinta: Menyiapkan Calon Guru PGMI yang Profesional

Malang, 25 September 2025 – Program Studi S1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang baru saja menyelenggarakan sebuah workshop bertema Deep Learning dan Kurikulum Cinta di Aula Microteaching, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan calon guru MI yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga memiliki jiwa seni dalam proses belajar mengajar, serta mampu memahami filosofi pembelajaran yang mendalam.

Workshop ini dihadiri oleh para mahasiswa PGMI, terutama semester 5 yang nantinya akan menghadapi tugas akhir mereka, serta beberapa dosen dan tenaga pengajar dari Program Studi PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rangkaian acara dimulai dengan kegiatan yang cukup mengesankan, yakni menyanyikan lagu nasional “Indonesia Raya”, Hymne Guru, dan Mars PGMI. Lagu-lagu ini tidak hanya sebagai pemanis acara, tetapi juga menjadi simbol semangat kebangsaan dan pengingat akan pentingnya peran guru dalam membentuk masa depan bangsa.

Semangat Meningkatkan Gairah Belajar

Mars PGMI yang dinyanyikan dengan penuh semangat oleh seluruh peserta workshop menjadi pembuka yang menggelorakan gairah belajar bagi semua yang hadir. Lagu ini menggugah rasa cinta kepada profesi guru dan menanamkan semangat kebersamaan dalam membangun pendidikan yang lebih baik.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Dr. Muhammad Walid, MA, dalam opening speech menyampaikan betapa pentingnya konsep Deep Learning dalam dunia pendidikan, khususnya dalam mempersiapkan calon guru yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peka terhadap pembelajaran yang mendalam. Menurutnya, Deep Learning tidak sekadar soal menghafal materi, tetapi juga melibatkan pemahaman yang mendalam akan makna dari setiap pembelajaran.

Dr. Muhammad Walid menjelaskan, “Deep learning berkaitan erat dengan filosofi warna merah hati, yang menjadi identitas Program Studi PGMI. Sebagai calon guru, kita harus mengajar dengan hati yang mendalam. Pembelajaran harus lebih dari sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi harus mampu menyentuh hati peserta didik,” ujarnya.

Konsep ini sejalan dengan penjelasan lebih lanjut mengenai pentingnya memiliki jiwa seni dalam proses mengajar. “Calon guru Madrasah Ibtidaiyah harus memiliki jiwa seni. Bukan hanya dalam konteks seni sebagai kegiatan estetika, tetapi lebih dalam lagi, seni dalam mendalami makna pembelajaran itu sendiri,” tambah Dr. Walid. Pernyataan ini menyiratkan bahwa calon guru PGMI harus memahami filosofi di balik setiap materi yang diajarkan, serta mampu mentransformasikan pengetahuan itu dalam bentuk yang mudah dipahami dan diterima oleh anak didik.

Selain itu, workshop ini juga menyoroti pentingnya filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang tertuang dalam prinsip “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Filosofi ini sangat relevan dengan pendekatan Deep Learning yang sedang dibahas. Filosofi Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita untuk memberikan teladan di depan, mendukung di tengah, dan membimbing dari belakang. Ini adalah pendekatan yang sangat baik dalam mengimplementasikan Deep Learning dalam dunia pendidikan.

Sebagai bagian dari workshop, para peserta diberikan bimbingan teknis (bimtek) mengenai penerapan Deep Learning dalam proses pembelajaran. Narasumber utama untuk sesi ini adalah Nuril Nuzulia, M.Pd., yang menjelaskan tentang bagaimana mengintegrasikan konsep Deep Learning dengan tujuan untuk mempersiapkan mahasiswa PGMI semester 5 yang akan menghadapi tugas akhir mereka (AM).

Nuril Nuzulia menekankan pentingnya calon guru untuk mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan gaya belajar yang beragam. “Mahasiswa PGMI harus bisa adaptif terhadap berbagai gaya belajar yang muncul dalam dunia pendidikan. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi oleh calon guru masa kini. Deep Learning tidak hanya tentang bagaimana cara mengajar, tetapi juga tentang bagaimana memahami kebutuhan dan karakteristik peserta didik,” jelasnya.

Di sesi berikutnya, workshop berlanjut dengan materi mengenai Kurikulum Berbasis Cinta, yang disampaikan oleh Galih Puji Mulyoto, M.Pd. Dalam pemaparannya, Galih menekankan bahwa kurikulum pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan. “Kurikulum berbasis cinta ini mengajak kita untuk melihat pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi manusia secara utuh, tidak hanya aspek kognitifnya saja, tetapi juga aspek emosional dan sosialnya,” kata Galih.

Menurutnya, pendekatan ini dapat membantu peserta didik untuk lebih peka terhadap sesama, mencintai proses belajar, serta memahami bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana menginspirasi anak didik untuk menjadi individu yang penuh empati dan tanggung jawab sosial.

Workshop ini ditutup dengan harapan besar untuk para mahasiswa PGMI agar mereka dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat dalam dunia pendidikan nyata. Dengan adanya pemahaman yang lebih mendalam tentang Deep Learning dan Kurikulum Cinta, diharapkan mereka tidak hanya menjadi pengajar yang cerdas secara intelektual, tetapi juga pengajar yang mampu menyentuh hati dan menciptakan suasana belajar yang lebih bermakna.

Kegiatan workshop ini menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mempersiapkan calon guru yang berkualitas, yang tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki jiwa seni dalam proses mengajarnya dan mampu menginspirasi peserta didiknya untuk mencintai pembelajaran.

Reportase oleh Wiku Aji Sugiri

Materi Workshop:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait