Malang, 28 November 2025 – Di tengah isu hangat tentang kecerdasan buatan (AI) dan tantangan etika, fokus terhadap krisis lingkungan tetap menjadi sorotan utama. Hal ini dibuktikan dalam perhelatan akbar The 4th IC-ISLEH (International Conference on Islam, Science, Language, Law, Education, Economics, and Humanity) yang diselenggarakan oleh Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Mengusung tema “Islam, Artificial Intelligence, and Ethical Challenges: Contemporary Discourses in Education, Language, Law, Economy, and Society,” konferensi internasional ini menjadi panggung bagi para akademisi untuk membedah tantangan kontemporer.
Dalam sesi paralel dengan sub-tema Islamic Education and Pedagogical Transformation, salah satu peneliti Program Studi PGMI UIN Malang, Sigit Priatmoko, mempresentasikan hasil risetnya yang berjudul “The Negotiation of Ecotheology Discourse.”
Bongkar Kesenjangan Ideologi ‘Hijau’
Sigit Priatmoko, dalam paparannya, menyoroti adanya jurang pemisah atau critical disconnect antara visi teologis radikal dengan implementasi praktisnya di lapangan.
“Destruksi lingkungan global yang terus meningkat menuntut respons etis dan transformatif fundamental dari institusi agama. Kementerian Agama (Kemenag) merespons dengan mengeluarkan dua dokumen kunci: Tafsir Ayat-ayat Ekologi (sebagai kerangka teologis ideal) dan Kurikulum Berbasis Cinta (sebagai implementasi pragmatis),” jelas Sigit.
Namun, penelitian Sigit menggunakan metode Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) menemukan temuan mengejutkan. Ia membongkar bagaimana ideologi “Hijau” yang visioner tersebut mengalami negosiasi dan reduksi saat memasuki mesin birokrasi kurikulum.
“Studi kami mengungkapkan bahwa Teologi Ekologi Ideal telah direduksi menjadi Sosiocentrisme Pragmatis demi kepatuhan birokrasi. Visi teologis yang radikal dan ekosentris kandas menjadi sekadar kepatuhan administrasi pendidikan,” tegasnya, menunjukkan bahwa visi ideal Kemenag tidak terwujud maksimal di tingkat praktik.
Seruan untuk Pedagogi Kritis
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Sigit menyerukan pentingnya penerapan Pedagogi Kritis Lingkungan (Critical Pedagogy of Environmental Discourse) dalam pendidikan Islam.
Ada tiga langkah krusial yang diajukan:
- Melatih Pembaca Kritis: Mendidik siswa untuk membaca tidak hanya Teks (Wacana) tetapi juga Realitas, sehingga memahami dinamika kekuatan di balik kerusakan lingkungan.
- Menghubungkan Titik: Menghubungkan isu-isu mikro (seperti Fitnah) dengan krisis makro (seperti Corporate Disinformation atau Greenwashing) untuk memulihkan relevansi struktural.
- Integrasi Sistemik: Mengintegrasikan Ekoteologi secara eksplisit ke dalam alat penilaian dan capaian pembelajaran, bukan sekadar pelengkap filosofis.
Sebagai penutup, Sigit Priatmoko menegaskan perlunya tindakan nyata. “Kami menyerukan agar Kemenag harus memperkuat Ekosentrisme dalam evaluasi kurikulum untuk merealisasikan kekuatan transformatif sejati dari ajaran Islam terhadap ekologi,” pungkasnya.
Presentasi ini menegaskan bahwa tantangan etika kontemporer tidak hanya berkisar pada teknologi AI, tetapi juga pada kemampuan lembaga pendidikan dan birokrasi untuk menerjemahkan nilai-nilai ideal ke dalam praktik nyata di lapangan.[*]





