Malang, 07/09/2026 – Indonesia kembali menyaksikan dinamika geologis yang signifikan seiring berdekatannya waktu erupsi di beberapa gunung berapi, seperti Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, hingga Sinabung. Keberadaan wilayah Nusantara di sepanjang jalur Cincin Api Pasifik dengan 127 gunung berapi aktif menjadikan fenomena ini sebagai pengingat nyata akan besarnya potensi bencana vulkanik di tanah air. Kondisi geografis tersebut menuntut kewaspadaan berkelanjutan dari seluruh lapisan masyarakat terhadap dinamika alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Tadabbur Alam dan Kewaspadaan Berbasis Wahyu
Dalam kacamata keislaman, fenomena geologis ini bukanlah sekadar peristiwa alam biasa, melainkan tanda-tanda kebesaran Allah (Ayatullah) yang menuntut tadabbur (perenungan). Allah SWT berfirman dalam Surah An-Naba, ayat 7: “Dan (bukankah Kami telah menjadikan) gunung-gunung sebagai pasak?” (QS 78:7). Ayat ini menegaskan peran gunung dalam menstabilkan bumi, namun ketika keseimbangannya terganggu, baik secara alami maupun akibat ulah manusia, terjadilah dinamika geologis yang menuntut kewaspadaan kita.
Lebih jauh, keterkaitan antara krisis iklim dan risiko bencana, sebagaimana diperingatkan para ilmuwan mengenai peningkatan ledakan uap akibat curah hujan ekstrem, menemukan relevansinya dalam Surah Ar-Rum, ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS 30:41). Erupsi besar yang dikhawatirkan dapat memicu krisis ekologi dan gangguan pangan global merupakan bentuk kerusakan yang sudah diperingatkan.
Urgensi Peran Pendidik PGMI
Realisasi atas ancaman ini membawa pesan krusial bagi mahasiswa dan alumni Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah untuk terus menguatkan literasi kebencanaan serta kepedulian lingkungan. Pendidik PGMI memiliki tanggung jawab etis dan syar’i untuk mentransformasikan pengetahuan ilmiah dan mitigasi bencana menjadi materi edukatif yang mudah dicerna oleh anak-anak, sekaligus menanamkan kesadaran tafakkur (berpikir) tentang tanda-tanda alam. Allah SWT memuji hamba-Nya yang tafakkur: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS 3:191).
Melalui integrasi pemahaman geologis dan ekologis yang selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an dalam proses pembelajaran, pendidik PGMI dapat membina lahirnya generasi muda yang tanggap, adaptif, serta memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan lingkungan dan ketaatan kepada Sang Pencipta. [*]





