Malang, 14/09/2026 — Arah penelitian pendidikan dasar di Indonesia mulai memasuki babak baru. Penelitian tidak lagi cukup berhenti pada pertanyaan apakah suatu media atau metode pembelajaran efektif, tetapi perlu mengungkap bagaimana proses tersebut bekerja, untuk siapa, dan dalam kondisi apa. Gagasan tersebut mengemuka dalam forum daring Academic Writing PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui paparan Dr. Muhammad Saefi, M.Pd. bertajuk Tren Penelitian Pendidikan. Berdasarkan pemetaan riset pendidikan global dan Indonesia, penelitian internasional semakin banyak menyoroti kapasitas guru, inklusi, kurikulum, pedagogi digital, serta ketahanan sistem pendidikan. Sementara itu, penelitian pendidikan dasar di Indonesia masih cenderung berpusat pada konteks kelas, karakteristik siswa, penggunaan teknologi, dan efektivitas metode pembelajaran. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya peluang besar untuk memperluas fokus riset, khususnya dengan menempatkan guru dan sistem pendidikan sebagai objek kajian utama. “Penelitian yang matang tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang dipelajari anak, tetapi juga melihat siapa yang mengajar, dalam sistem apa, dengan kondisi seperti apa, serta apa yang terjadi di luar kelas,” demikian inti pesan dalam paparan tersebut.

Perubahan arah riset juga dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Ketika AI mampu menghasilkan jawaban yang tampak kompleks dalam waktu singkat, kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak cukup hanya diukur dari hasil akhir. Peneliti perlu mengkaji proses penalaran, kemampuan memverifikasi informasi, metakognisi, integritas akademik, serta kemampuan siswa menggunakan AI secara kritis dan etis. Dalam konteks pendidikan dasar, sejumlah agenda penelitian yang dinilai semakin penting meliputi literasi AI, pembelajaran adaptif dan terpersonalisasi, keterampilan berpikir komputasional, pembelajaran berbasis STEAM, kesejahteraan digital, pendidikan inklusif, kesenjangan akses teknologi, serta penguatan literasi dan numerasi dasar.
Peta riset MI dan SD Research Roadmap 2024–2026 yang disusun Ahmad Abtokhi turut menunjukkan luasnya perkembangan tema penelitian pendidikan dasar. Peta tersebut mencakup berbagai klaster, antara lain inovasi pedagogi dan keterampilan masa depan, ekosistem digital dan AI, kurikulum karakter, asesmen dan pemulihan pembelajaran, budaya bahasa dan identitas lokal, profesionalisme pendidik, pemerataan pendidikan, ketahanan sekolah, serta pendidikan inklusif. Salah satu isu penting yang muncul adalah kebutuhan untuk mengembangkan penelitian yang relevan dengan konteks lokal. Integrasi budaya, ekologi, nilai agama, kondisi sosial-ekonomi, serta kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar inovasi pendidikan tidak hanya efektif di atas kertas, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata. Dari sisi metodologi, peneliti juga didorong untuk tidak menggunakan satu desain penelitian secara berulang. Penelitian berbasis desain dapat digunakan untuk mengembangkan dan menguji inovasi secara iteratif. Studi kualitatif dan observasi kelas diperlukan untuk memahami interaksi pembelajaran. Analitik pembelajaran dan metode campuran dapat digunakan untuk melihat pola yang lebih luas, sedangkan studi longitudinal penting untuk mengukur dampak jangka panjang. Dengan demikian, masa depan penelitian pendidikan dasar tidak semata-mata ditentukan oleh topik yang sedang populer. Riset yang kuat justru lahir dari kemampuan peneliti membaca masalah yang sedang berubah dan menghubungkan teknologi, pedagogi, konteks lokal, serta kebutuhan masyarakat. Arah baru tersebut menegaskan bahwa pendidikan dasar membutuhkan penelitian yang lebih kritis, kontekstual, inklusif, dan berorientasi pada pemahaman mendalam terhadap proses belajar. Tantangan berikutnya bukan hanya menciptakan pembelajaran yang lebih modern, melainkan memastikan setiap inovasi benar-benar membantu siswa belajar secara lebih bermakna dan berkeadilan.
Sumber: Materi Tren Penelitian Pendidikan Dr. Muhammad Saefi, M.Pd., dan MI/SD Research Roadmap 2024–2026 Ahmad Abtokhi.





